Lagu Barat dan K-Pop belakangan ini sangat mendominasi selera musik anak muda Indonesia. Dengan kemudahan akses internet dan media sosial, lagu-lagu dari artis internasional dan idol Korea bisa langsung masuk ke telinga generasi muda tanpa batasan, musik Barat menawarkan lirik universal dan gaya yang modern, sementara K-Pop hadir dengan visual menarik dan tarian yang memukau. Tidak heran, banyak generasi muda yang menjadi penggemar berat kedua aliran musik tersebut.
Semakin maraknya penggemar musik Barat dan K-Pop di kalangan generasi muda mengakibatkan lagu nasional dan daerah Indonesia menjadi terlupakan. Mayoritas anak muda di Indonesia tidak lagi mendengarkan lagu nasional dan lagu daerah yang menjadi bagian dari budaya. Hal ini dibuktikan dengan banyak anak muda Indonesia yang lebih hafal dengan lagu hits K-Pop dan Western dibandingkan lagu daerahnya sendiri
Musik K-Pop dan Western lebih populer di kalangan generasi muda karena strategi promosi dan persebarannya yang sangat efektif, terutama melalui platform digital. Industri K-Pop, misalnya, mereka memanfaatkan media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok untuk menjangkau penggemar secara global dengan konten yang menarik, seperti video musik, variety show, dan interaksi langsung dari idol. Selain itu, mereka juga menggabungkan unsur visual yang memukau, koreografi yang rumit, dan produksi musik yang berkualitas tinggi. Sementara itu, musik Western memiliki jangkauan global yang kuat berkat dominasi label rekaman besar dan platform streaming seperti Spotify dan Apple Music, yang terus mempromosikan artis-artis mereka melalui playlist populer. Algoritma platform digital ini juga sering merekomendasikan lagu-lagu Barat dan K-Pop, sehingga anak muda lebih mudah terekspos. Ditambah lagi, tema lagu yang relatable, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa universal, dan kolaborasi dengan artis internasional membuat musik ini lebih mudah diterima dan diminati. Hal ini berbeda dengan lagu nasional dan daerah, yang kurang mendapat dukungan promosi dan modernisasi, sehingga kalah bersaing di era digital.
Fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena musik adalah bagian dari hiburan dan budaya yang terus berkembang. Tapi, yang jadi masalah adalah ketika anak muda mulai lupa atau bahkan tidak kenal sama sekali dengan lagu-lagu nasional atau daerah mereka sendiri. Lagu-lagu itu bukan hanya soal musik, tetapi juga mengandung nilai sejarah, cerita, dan identitas bangsa. Jika terus-terusan diabaikan, kita bisa kehilangan salah satu bagian penting dari budaya kita.
Tetapi, hal ini juga mencerminkan masalah yang lebih besar, yaitu lunturnya jati diri bangsa di era globalisasi. Ketika generasi muda lebih mengenal budaya asing dibandingkan budaya mereka sendiri, identitas sebagai bangsa Indonesia perlahan terkikis. Lagu nasional dan daerah sebenarnya adalah bagian dari warisan budaya yang memperkuat rasa kebangsaan dan kebersamaan. Namun, dengan dominasi musik Barat dan K-Pop, rasa bangga terhadap identitas budaya lokal semakin memudar. Dalam konteks sosiologi, ini adalah contoh bagaimana arus globalisasi dapat menggeser nilai-nilai sosial dan budaya, menciptakan krisis identitas di masyarakat. Jika tidak ada upaya serius untuk melestarikan dan mempromosikan budaya nasional, kita berisiko kehilangan ciri khas yang membuat Indonesia unik di tengah keberagaman dunia.
Salah satu contoh nyata dari masalah ini dapat dilihat dalam perayaan-perayaan nasional di sekolah-sekolah Indonesia. Dalam banyak kasus, siswa lebih antusias menyanyikan atau menarikan lagu-lagu K-Pop atau Barat dalam acara pentas seni dibandingkan dengan membawakan lagu nasional atau daerah. Misalnya, pada beberapa lomba antar sekolah, tarian yang diiringi lagu-lagu K-Pop kerap mendominasi, sementara seni tradisional seperti tari daerah atau musik gamelan semakin jarang dipilih. Fenomena ini juga terlihat dalam penggunaan media sosial, di mana anak muda lebih sering membuat konten dance challenge atau cover lagu K-Pop dibandingkan dengan musik lokal. Minimnya paparan terhadap lagu nasional dan daerah, serta kurangnya inovasi dalam memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang relevan bagi generasi muda, menjadi faktor utama yang memperparah masalah ini. Dikutip dari website Universitas Gajah Mada. "Lagu perjuangan nasional Indonesia saat ini jarang diputar maupun dinyanyikan, dan hanya diperdengarkan pada hari-hari besar negara ataupun upacara. Bahkan, pamornya semakin meredup dan tergeser oleh lagu-lagu populer yang ada saat ini." Kepala Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Dr. Heri Santoso, mengatakan. "Banyak anak muda yang tidak hafal lagu nasional apalagi disuruh untuk memimpin paduan suara,” katanya, Selasa, 5 April di Ruang Multimedia UGM saat Pelatihan Teknik Manajemen Paduan Suara Lagu Perjuangan.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan penanganan yang kreatif dan relevan dengan minat generasi muda. Salah satu solusinya adalah modernisasi lagu nasional dan daerah dengan sentuhan aransemen yang lebih fresh tanpa menghilangkan esensi budaya aslinya. Kolaborasi antara musisi tradisional dan musisi modern dapat menciptakan karya yang menarik bagi anak muda. Selain itu, pemerintah, sekolah, dan pelaku industri musik perlu lebih aktif mempromosikan lagu nasional dan daerah melalui platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Spotify, mengingat generasi muda sangat akrab dengan media ini. Program kompetisi seperti "cover lagu daerah" atau "remix lagu nasional" dengan hadiah menarik juga bisa menjadi cara efektif untuk meningkatkan keterlibatan. Tak kalah penting, kurikulum pendidikan harus memberikan ruang lebih besar untuk pengenalan budaya lokal melalui aktivitas yang interaktif dan menyenangkan, seperti pentas seni atau festival budaya. Dengan ini, lagu nasional dan daerah bisa kembali menjadi bagian penting dari kehidupan generasi muda, sekaligus memperkuat jati diri bangsa.